There is Something That Money Can’t Buy

January 28, 2009 at 9:57 am (My Stupid Notes)

Nyonya Inka adalah seorang janda kaya raya dan terpandang di salah satu kota kecil yang terletak di pulau Jawa. Ia anak tunggal dari keluarga pengusaha tembakau yang gosipnya kekayaannya itu sanggup menafkahi seluruh rakyat di negeri ini untuk 20tahun yang akan datang. Dalam kurun 5th pernikahannya dan dikaruniai seorang putri, suami tercinta meninggal dunia karena kanker paru-paru akibat berbatang-batang kretek yang dihisapnya. Menurut Nyonya Inka; merokok itu adalah sesuatu  kebodohan, walaupun pengusaha tembakau bukan berarti kita juga harus ikut-ikutan menghisapnya. Akhirnya ia memutuskan untuk membesarkan sendiri putrinya dan menolak untuk menikah lagi karena itu merupakan pemborosan. Dimana pengeluaran akan lebih besar lagi pikirnya. Namun berita tentang kematian suaminya itu selalu ditutup-tutupi dan hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Mungkin akan berpengaruh terhadap saham perusahaan tembakaunya, cuma beliau yang tau. Ya begitulah Nyonya Inka, kaya namun pelit dan selalu perhitungan dengan harta. Walaupun orang mengenalnya seorang dermawati, namun dibalik itu ia cuma ingin menyombongkan diri dan merasa terkenal. Banyak orang yang menyukainya tapi juga banyak yang mencibirnya.

Walaupun kaya raya, Nyonya Inka tidak alergi dengan dunia sekitar. Ia acap kali menikmati lingkungan sekitar dengan sering berbelanja ke pasar tradisional, ke warung kecil dan tempat-tempat rakyat kecil bertransaksi. Namun ia suka membuat orang sekitarnya sebal akan tingkah mau ’menang sendiri’-nya, egois dan meninggi.
Seperti kala suatu pagi ketika ia membeli nasi uduk yang cukup terkenal di kota itu. Nasi uduk itu cuma berupa gerobak tua namun rasanya sangat enak sekali. Banyak orang yang datang dari jauh dan berangkat lebih pagi hanya untuk menikmati nikmatnya nasi uduk tersebut karena biasanya sebelum jam9 pagi nasi uduk sudah ludes habis.
Nyonya Inka sedang berdiri antri untuk membeli nasi uduk. Raut wajahnya terlihat sebal menunggu dan sekali-sekali menggerutu tatkala antrian semakin panjang oleh pembeli. Tiba gilirannya, ia pun memesan semua nasi uduk untuk dibungkus. Lalu si penjual bertanya, ”Semua Nyah?”
”Iya semuanya saya borong! Ini untuk keluarga saya, dan juga pembantu-pembantu saya yang banyak di rumah”, jawabnya ketus.
”Tapikan yang lain juga ingin kebagian Nyah..”, jawab penjual dengan sopan.
”Lho kenapa? Saya beli pake duit koq, ya terserah saya kalo saya mau borong. Tenang aja saya bayar koq!”, jawabnya dengan angkuh sambil melihat remeh ke semua pembeli yang mengantri
Akhirnya si penjual pun tidak dapat membantah dan menuruti kemauan beliau dan semua pembeli yang mengantri pun hanya bisa mengurut dada sebal akan perilaku Nyonya Inka.

Pada bulan Ramadhan beliau juga pernah berulah di salah satu restoran padang di kota itu. Dimana saat akan berbuka puasa, beliau memesan salah satu meja besar di restoran tersebut, dan di atasnya terhidang semua masakan lengkap dengan hidangan perbukaannya. Beliau bukan seorang muslimah, maka beliau pun dengan cueknya menikmati seluruh hidangan tanpa mempedulikan seluruh tamu yang ada dan para tamu itu pun cuma dapat menelah ludah melihat perangai beliau. Ketika sedang asyiknya makan, Nyonya Inka pun diinterupsi oleh salah satu pelayan restoran yang menanyakan apakah beliau ingin berbagi tempat karena banyak para tamu yang sedang mengantri tidak kebagian meja.
”Lho kenapa saya harus menyediakan tempat buat mereka?, jawab beliau.
”Iya, dengan meja sebesar ini nyonya hanya berdua dengan putri anda. Mungkin yang lain juga bisa duduk bareng dengan anda untuk bisa membatalkan puasanya sebentar karena tidak lama lagi akan adzan maghrib.” kata sang pelayan sambil menunjuk para tamu yang sedang antri.
Lalu Nyonya Inka berang sambil menarik kerah si pelayan sambil berbisik ke telinga pelayan tersebut, ”Saya ke sini juga ingin menikmati hidangan restoran ini dan membayar sama seperti yang lainnya. Kenapa saya tidak berhak akan privacy saya dalam menikmati hidangan karena harus berbagi tempat duduk dengan para orang asing itu di meja saya? Apa alasannya coba? Kalau perlu saya bayar untuk semua kursi-kursi yang kosong ini dan sekarang tolong anda enyah dari muka saya karena saya mau melanjutkan makan, terima kasih.”
Pelayan itu pun tersenyum pahit sambil pergi meninggalkan meja Nyonya Inka menuju ke antrian para tamu yang sedang menunggu untuk meminta maaf. Para tamu tersebut pun pergi sambil melihat kesal ke arah meja Nyonya Inka.

Pernah juga pas di tengah hujan deras ketika beliau sedang menaiki taxi pesanannya di depan gerbang rumahnya yang seperti istana tersebut. Nyonya Inka lagi-lagi diganggu oleh sepasang suami istri yang tiba-tiba muncul sedang mencari taxi.
Si suami itu pun meminta jika sekiranya Nyonya Inka mau memberikan taxi itu kepada mereka karena sulit mencari taxi disaat hujan deras begini sementara sang istri sedang pendarahan ingin melahirkan dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Nyonya Inka pun sentak murka,”Emang saya peduli dengan omong kosong anda?! Saya sudah menunggu lama untuk taxi ini dan sekarang anda ingin saya memberikan taxi ini kepada anda! Apakah anda sanggup membayar kerugian saya atas waktu yang saya buang-buang percuma untuk anda?”
”Tapi anda bisa memakai mobil anda nyonya, bukankah mobil anda banyak di balik gerbang yang besar ini?”jawab si suami tersebut sambil meneteskan air mata memohon.
”Apa kuasa anda mengatur kemauan saya? Saya sebenarnya juga enggan menggunakan taxi, tapi karena hujan deras, saya tidak ingin mobil saya kotor. Maaf, saya tidak ada waktu lagi.”, jawab beliau sambil meninggalkan sepasang suami-istri tersebut.

Hingga pada saat Nyonya Inka dan putrinya hendak pergi ke luar kota untuk menghadiri peresmian perusahaan barunya dengan menggunakan pesawat terbang. Namun pada malam itu pesawat terakhir sudah habis terjual tiketnya kepada kedua laki-laki sebelum beliau.
Lalu beliau pun memanggil laki-laki tersebut dan meminta agar laki-laki tersebut mau menjual tiket yang baru saja mereka beli kepadanya.
Terlihat muka salah satu dari laki-laki tersebut kaget melihat wajah Nyonya Inka dan kemudian bengong sebentar dan berkata, ”Saya dengan rekan saya ini perlu keluar kota untuk urusan kantor, tolong anda sebutkan satu alasan bagus kenapa saya harus memberikan tiket ini kepada anda nyonya?
”Karena saya bisa membayar tujuh kali lipat untuk harga tiket anda berdua dan anda bisa memberikan alasan ke kantor kalau anda tidak mendapat flight malam ini.” jawab beliau sambil tersenyum angkuh.
”Maaf nyonya, alasan anda tidak masuk akal bagi saya”, jawab laki-laki tersebut sambil mengajak temannya untuk beranjak.
Tau kalau jawabannya tidak diterima, dengan tiba-tiba wajah angkuhnya berubah mengiba, ”Tolonglaah.. saya mohon dengan anda, saya sangat kaya dan tidak omong kosong soal harga tiket yang saya tawarkan. Saya sangat membutuhkan flight malam ini segera karena ayah dari anak ini sedang sekarat di rumah sakit dan saya bersedia membayar berapa saja agar dapat menemuinya.”, bujuk beliau dengan memelas sambil mengedipkan matanya ke putrinya agar mau berkompromi.
Lalu tiba-tiba si laki-laki tersebut menghentikan langkahnya dan menoleh ke putri Nyonya Inka ,”Benarkah?”
”Iya pak”, jawab si putri sambil mengangguk.
”Baiklah, ini pake tiket saya, kelihatannya anda lebih berhak akan tiket ini dan temuilah suami anda malam ini”, jawab si laki-laki itu kepada Nyonya Inka.
”Oh terima kasih.. anda sungguh baik sekali, ini harga yang sudah saya janjikan”, jawab Nyonya Inka bahagia sambil merogoh duit yang ada di tas sandang mahalnya.
”Oh tidak.. saya ikhlas nyonya, terimalah dan sampaikan salam saya dengan suami anda”, jawab laki-laki tersebut.
Maka wajah Nyonya Inka pun terpana tidak percaya menyadari betapa lugunya laki-laki yang sedang dihadapinya saat itu. Kemudian ia berkata,
”Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”, tanya Nyonya Inka berusaha mengingat.
”Hmm.. saya rasa tidak nyonya”, kata laki-laki tersebut terbata-bata.
Dan kemudian ia dan putrinya pun berbalik meninggalkan kedua laki-laki tersebut menuju ruang tunggu penumpang sambil tertawa geli dalam hati.

Sementara pesawat telah take off, kedua laki-laki tersebut pun kembali duduk di kursi tempat pembelian tiket.
”Untuk sementara kita menunggu di sini aja sampai pagi nanti untuk pesawat besok hari ya pak” kata laki-laki itu kepada temannya.
”Baiklah pak.. tapi sungguh sikap anda tadi sangat mulia pak, saya sangat menghargainya dan ikhlas juga pada akhirnya”, jawab sang teman.
”Ah..jangan memuji begitu, dia sungguh berhak mendapatkan tiket itu.”
”Tapi pak, apakah anda sebelumnya pernah ketemu dengan beliau? Kata orang-orang sih beliau sangat menyebalkan lho!”, tanya sang teman lagi.
Si laki-laki tersebut pun terdiam seribu bahasa.
”Pak..!”, sanggah si teman sambil memengang bahu si laki-laki itu.
”Oh.. maaf”, jawab si laki-laki tersebut. ”Yah.. saya jadi teringat dengan almarhumah istri saya dulu. Ia meninggal dengan mengandung calon bayi kami gara-gara terlambat dilarikan ke rumah sakit. Ia kehabisan banyak darah saat saya bersamanya di tengah hujan deras bersusah payah mencari taxi, padahal sebelumnya ada seorang nyonya yang tidak sudi memberikan taxinya kepada kami. Yah benar.. saya pernah bertemu dengannya sebelumnya.”, lanjut si laki-laki itu sambil bercerita.
”Astaga! Maksud anda orang itu adalah nyonya tadi?”, tanya sang teman kaget.
”Benar”, jawab laki-laki tersebut dengan santai.
”Wah..bagaimana anda bisa membalas racun itu dengan segenggam berlian pak?”, tanya si teman penasaran.
”Begini, apakah saya harus membalasnya dengan sikap yang tidak terpuji juga? Lagian apakah suami beliau juga harus mengalami hal yang sama dengan istri saya agar beliau juga merasakan kepahitan saya? Tentu tidak pak. Meski saya berbuat sebaliknya juga tidak membuat istri dan bayi saya hidup kembali. Bahkan hartanya yang setinggi gunung itu pun takkan mampu pak.. karena ada sesuatu hal dimana uang tidak dapat membelinya. Biarlah dia sadar suatu saat nanti”, jawab si laki-laki itu dengan bijak.
”Wah..benar-benar hari ini saya belajar banyak hal dari anda pak.”, jawab si teman sambil menepuk lutut si laki-laki tersebut dan kemudian mengambil koran yang ada di atas meja dan membacanya sementara si laki-laki tersebut duduk diam menonton TV.
Lalu beberapa menit kemudian sang teman pun menarik-narik lengan si laki-laki yang ternyata sudah tertidur duduk di kursi tunggu.
”Pak coba lihat”, kata sang teman memperlihatkan ke salah satu kolom berita di koran lokal yang sedang dibacanya.
Si laki-laki itu pun tersentak dan mengusap-usap matanya berusaha membaca. Terlihat di sana berita tentang Nyonya Inka yang akan segera meresmikan perusahan barunya di suatu kota dan tertulis juga riwayat hidup beliau jika Nyonya Inka adalah seorang janda beranak satu. Alangkah terkejutnya sang laki-laki tersebut mengetahui kalau Nyonya Inka telah mengelabuinya dan berbohong soal suaminya. Memang selama ini ia benar-benar tidak mengetahui bahwa suami Nyonya Inka telah tiada.

….

Masih tidak percaya akan hal tersebut tiba-tiba terdengar breaking news dari TV dan kedua laki-laki tersebut menoleh kearah asal suara;

”Selamat malam pemirsa, pesawat dengan maskapai bernama A— Air dengan nomor  penerbangan —– dari kota —- tujuan kota —- telah diberitakan hilang di sekitar perairan Majene Sulawesi setelah khilangan kontak dengan……………………………………………………………………………………..”

Ketika berita TV itu selesai, teman si laki-laki itu pun berkata, “Akhirnya beliau benar-benar menemui suaminya pak dan sungguh hartanya pun tak sanggup untuk membeli itu”.

Words: Danny Brenksect

2 Comments

  1. harr51 said,

    panjang kali bang
    susah awak mengapalnya buat ujian nanti ni

  2. flora said,

    Beneran ternyata pacar aku jago nulis yah!
    Publikasinya kurang nih syg..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.