JavaRockin’Land LastDay: We Promise No Malayan Scene on The Stage

October 16, 2009 at 7:34 am (My Snapshotz)

Sekarang semangat gerilya lebih membara, karena kmarin terperdaya tipu muslihat aparat. Kemarin musti bayar seluruh rombongan untuk nganterin doang. Tapi Malam ini sukses terobos gerbang ancol dan hingga beranjak pulang dari parkir, semua tanpa bayar.
Mew keren! Abis lihat Mew malas liat band-band lain. Sepadanlah dengan harga tiket yang masih terjangkau. Kalo taon depan lebih dari 300ribeng ntar-ntar dulu deh! Thx buat Aghi atas kesediaannya pinjemin camera.

Photographer: Danny Darwin

Permalink Leave a Comment

JavaRockin’Land Day02: We Listened to Komunal, Ignored Mr.Big!

October 16, 2009 at 6:39 am (My Snapshotz)

Perjalanan dimulai dengan wedding temen/saudara kita bersama keluarga. Setelah menghadiri resepsi sebentar, maka rombongan pun terpaksa ikut mengantarkan kita ke Ancol setelahnya (terkesan buru-buru). Seperti William di scene “Almost Famous” yang diantar oleh ibunya pergi ke konser. “Don’t do drugs! Don’t Drink!”

Memang kita baru available-nya di hari kedua. Padahal sebenarnya gue ngebet banget nonton di hari pertama karena disana banyak headliners indielokal wajib tonton. Seperti Koil & Seringai. Namun hadir di hari kedua juga tak masalah, overall: Satisfied!

Dihajar dari awal masuk arena oleh Pasukan perang dari Rawa yang mengklaim sosoknyalah yang menyelamatkan Rock N Roll dari kematian; Komunal. Mereka benar-benar citra band Rock/metal lokal yang matang. Secara musikalitas dan attitude. Walaupun berangkat dari scene underground, mereka patut diberi tempat yang tinggi di jajaran band lokal. Saya sangat suka Komunal. Originalokal.

Sempat sebentar melihat Pure Saturday, dan dihadiahi encore “Simple”. Nice!

Mr.Big. Yah keren! Tak bisa diungkapkan oleh bergelimang pujian dan kata-kata.

Terakhir sebelum pulang kita sempatkan melihat aksi trio Efek Rumah Kaca. Ini baru pertama kalinya saya melihat live performance mereka. Ternyata dasyat juga. Minimalist but Epic!

Photographer: Danny Darwin

Permalink Leave a Comment

Skin Of Tears

November 21, 2008 at 7:30 am (My Snapshotz)

Lagi-lagi kamera manual Pentax K1000 warisan papa kembali beraksi. Waktu itu ada dua gig seru sedang membakar kota Bandung. Acara Dozen Terror di GOR Saparua dan acara anak-anak melodic punk di Dago Tea House. Teman gue pengen ke Saparua sementara gue pengen ke Tea House, karena kabarnya ada band luar negeri yang mau main. Dari Germany ato mana gitu gue juga baru tau tuh ama namanya pas itu.

Akhirnya kita sepakat untuk jajal dua-duanya dan berakhir di Tea House. Di tutup oleh aksi ‘Skin Of Tears’. Not bad.. hehee..

(foto-foto diambil atau kejadian berlangsung sekitar tahun 2001-2002 gue lupa)

Danny Darwin

Photographer : Danny Darwin

Danny Darwin

Photographer : Danny Darwin

Danny Darwin

Photographer : Danny Darwin

Danny Darwin

Photographer : Danny Darwin

Permalink 1 Comment

‘Aparat Mati’ Kick Ass!

November 21, 2008 at 6:56 am (My Snapshotz)

Sebenarnya hari itu gue planning nonton laga Persib vs PsPs di Stadion Siliwangi. Namun keburu udah janji ama teman mau jepretin gig sobatnya di suatu arena kecil di Lembang. So akhirnya kita cabut naik motor F1Z SE kesayanganku dan tak lupa camera manual tua Pentax K1000 warisan Papa. Setibanya disana, kita telat dan missed performance sobatnye itu. Sial!! Akhirnya kita kepaksa nongkrong di luar agak jauh dari arena sambil merokok. Maklum ini acaranya barudak ‘Straight Edge’ dengan temanya Positive Mental Attitude.

Tapi akhirnya kita dikasi masuk gretongan dan tiba-tiba langsung berhadapan dengan bintang tamu ‘Aparat Mati’. Beeuuhh, keren pisan.. Cikal bakal Seringai ditambah si Eben Burger Kill. Wah! Suasana langsung brutal ala 80′s American Hardcore. Hell yeah..!

(foto-foto diambil atau kejadian berlangsung sekitar tahun 2001-2002 gue lupa)

Danny Darwin

Photographer : Danny Darwin

Danny Darwin

Photographer : Danny Darwin

Permalink Leave a Comment

Koil – Megaloblast Gig

November 21, 2008 at 6:15 am (My Snapshotz)

Wah.. ini band emang edan, jawaralah bagi saya. Semenjak membeli album debutnya di bawah record label milik Indra Qadarsih (Slank) pada tahun 1996 di Mall Depok, saya serasa mabuk kepayang oleh cinta pada pendengaran pertama. Album yang ber-cover gambar api di bara kayu itu memang memuat bunyi-bunyian yang semeringah akan kemurkaan iblis di kelamnya nuansa suram neraka. Seperti tercermin pada tembang mautnya ‘Karat’, ‘Dengekeun Aing’, ‘Murka’, ato manisnya alunan lembut kehampaan dari ‘Burung Hantu’ dan ‘Lagu Hujan’. Singkatnya kaset saya itu laku keras dipinjam dari tangan ke tangan teman saya. Huh..!

Singkatnya, pada tahun 2000-an (saya lupa tepatnya), setelah meledaknya album kedua Megaloblast, saya akhirnya mendapat kesempatan untuk melihat peformance band idola saya ini saat studi di Bandung. Saya mendatangi setiap gignya Koil dari GOR Saparua hingga Dago Tea House dengan menenteng kamera manual Pentax K1000 warisan bapak saya. Saya berhasil mengabadikan beberapa gambar diantara beberapa gambar gagal lainnya dan beberapa gambar yang tidak mampu saya cetak. Maklum, waktu itu camera digital belum happening man, dan musti kudu nongkrong lama di Rapico untuk nyetak. Hehee..

(foto-foto diambil atau kejadian berlangsung sekitar tahun 2001-2002 gue lupa)

otong-koil-01

Photographer : Danny Darwin

Danny Darwin

Photographer : Danny Darwin

Permalink Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.